jump to navigation

COME & JOIN NOW November 11, 2012

Posted by pgliijatim in Uncategorized.
add a comment

Lagi, Doktor Honoris Causa untuk Pdt. DR. Nus Reimas Agustus 1, 2012

Posted by pgliijatim in Uncategorized.
add a comment

PDFPrintE-mail

Written by Jac Tuesday, 31 July 2012 14:43
“Bagi saya semua gelar kehormatan ini tidak punya arti, kalau tidak dipakai Tuhan”, kata Pak Nus.

Nus Reimas menerima penghargaan dari Petrus Octavianus yang didampingi Rektor I-3, Stevri Lumintang.Nus Reimas menerima penghargaan dari Petrus Octavianus yang didampingi Rektor I-3, Stevri Lumintang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Angin pagi berhembus kecil. Seperti biasa, kabut dan udara dingin adalah pemandangan sehari-hari kota wisata Batu Malang. Tapi hari itu, Sabtu 28 Juli 2012, bukan hari biasa bagi para penghuni kampus Institut Injili Indonesia (I-3) Batu Malang. Sehari sebelumnya sudah tampak bunga-bunga dan dekorasi menghiasi kawasan milik Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) itu. Halaman depan aula Bukit Zaitun hingga ke halaman samping kanan gedung, terus ke belakang dipenuhi dengan jajaran bunga-bunga cantik ucapan selamat dari para keluarga, kerabat, rekan kerja, anak didik dan teman-teman terkasih para penerima gelar doctor honoris causa. Ya, hari itu adalah hari bersejarah bagi Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Umum PGLII), Pdt. DR. Saur Hasugian, M.T.h (Dirjen Bimas Kristen), A. Teras Narang, S.H. (Gubernur Kalimantan Tengah), Hashim S. Djojohadikusumo (pengusaha internasional dan Ketua KTN YPPII Batu 2009-2012), dan Pdt. Roland Octavianus (Ketua Umum YPPII Batu). Kelima tokoh ini mendapatkan gelar doctor honoris causa dari I-3 Batu Malang pimpinan Pdt. DR. Petrus Octavianus, DD, Ph. D. itu. Tampak spanduk coklat besar berhuruf putih bertuliskan “Rapat Terbuka Senat Institut Injili Indonesia dalam rangka Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan” tergantung di dinding belakang atas panggung ruangan berkapasitas kurang lebih 500 orang itu. Tepat jam 9 pagi acara dimulai. Pendiri YPPII – yang juga dulu turut mendirikan PII sebelum berubah nama menjadi PGLII ini – menulis dalam sambutan pada buku acara sebagai berikut, “Langkah yang dilakukan Institut Injli Indonesia adalah langkah yang tepat, segaris dengan penegasan Yeremia 29:7 dan 1 Timotius 2:1-2, di mana gereja/lembaga gerejawi/umat Kristen telah mengusahakan kesejahteraan kota, masyarakat, bangsa dan negara Republik Indonesia.” Kelima tokoh penerima gelar kehormatan mendapat apresiasi tersebut atas peran serta mereka dalam bidang manajemen pendidikan keagamaan (Saur Hasugian), kepempinan sosial-politik (Teras Narang), ekonomi kemasyarakatan (Hashim Djojohadikusumo), kepemimpinan keagamaan (Nus Reimas), dan kepemimpinan pendidikan keagamaan (Roland Octavianus).

Tampak aula Bukit Zaitun dari depan.Tampak aula Bukit Zaitun dari depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendidikan Jangan Terjebak Akreditasi

Bagi Nus Reimas dan Saur Hasugian, gelar doktor honoris causa ini masing-masing adalah yang kedua kalinya. Pdt. Nus Reimas pertama kali mendapatkan gelar DR(HC) dari International Council for Higher Education di Wina Austria tahun 2005. Ketua Umum PGLII ini sempat terdiam dengan mata berkaca-kaca saat berdiri di podium untuk menyampaikan orasinya. “Saya mengucap syukur kepada Tuhan. Oleh karena anugerah-Nya saya diselamatkan. Dari sebuah desa, sangat terpencil. Tapi oleh karena kasih karunia-Nya yang memberikan kepercayaan yang luar biasa, sehingga hari ini saya hampir 40 tahun melayani Dia, Raja Di Atas Segala Raja. Saya bersyukur bahwa hari ini penganugerahan gelar kehormatan ini juga bagian dari hidup.” Selanjutnya Pak Nus mengatakan, “Saya terpanggil oleh karena sebuah visi yang jelas, melihat mahasiswa hari ini adalah pemimpin hari esok. Dan bagian terbesar dalam hidup saya adalah mempersiapkan kader-kader mahasiswa yang memiliki tingkat intelektual yang baik, punya knowledge yang baik, punya skill yang baik, capacity yang baik, tapi juga harus punya attitude yang baik.” Ia melihat masalah utama yang harus mendapat perhatian adalah pendidikan. “Pendidikan menjadi penyebab utama mengapa kita tidak punya orang-orang yang pas untuk membawa transformasi pembaharuan bagi bangsa ini”, lanjutnya. Ia menyatakan keprihatinannya akan kualitas pendidikan di Indonesia. Lebih dari 10 tahun tokoh yang satu ini berkecimpung di Majelis Pendidikan Kristen melihat, pendidikan di Indonesia terkadang dikomersialkan. Dalam acara tersebut Nus Reimas lalu berpesan pada sesama penerima gelar kehormatan, Saur Hasugian yang sekaligus menjabat Dirjen Bimas Kristen Indonesia yang duduk di atas kiri panggung, “Pak Dirjen, kita jangan sampai hanya terjebak dengan akreditasi. Jangan terjebak hanya dengan ujian-ujian negara. Tetapi kita harus benar-benar membangun generasi baru yang menjadi directionsetter ke depan yang melihat persoalan-persoalan bangsa ini secara real. Dan mau menjadi alat dalam rangka transformasi.” “Berapa banyak yang menjadi outstanding leader?” Beberapa tahun lalu, pertanyaan itu meluncur dari mulut Pak Nus ketika bertemu dengan seorang rektor sekolah teologi di Jakarta ketika membahas banyaknya lulusan sekolah teologi pimpinan sang rektor. Rupanya Pak Rektor agak bingung dan tidak bisa menjawab hingga saat ini. “Kalau hal ini tidak disiapkan dengan baik, maka harapan bahwa gereja menjadi alat pembaharu bagi masyarakat dan bangsa, hanya tinggal impian”, sambungnya.

Nus Reimas saat didoakan bersama para penerima gelar kehormatan doktor honoris causa.Nus Reimas saat didoakan bersama para penerima gelar kehormatan doktor honoris causa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto bersama para penerima gelar kehormatan dengan ibu Petrus Octavianus (duduk di tengah)Foto bersama para penerima gelar kehormatan dengan ibu Petrus Octavianus (duduk di tengah)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jarak Si Kaya dan Si Miskin

Tak hanya soal pendidikan, persoalan ekonomi bangsa ini pun menjadi perhatian Nus Reimas. “Saya tidak tahu apakah itu karena jalan bagi orang kaya makin sempit dan bagi orang miskin makin lebar?! Tapi, mudah-mudahan tidak. Ini masalah keadilan. Keadilan dan kasih itu hanya bisa terwujud jika seseorang benar-benar memiliki hubungan dan persekutuan dengan Tuhan”, ujarnya. Masalah jarak si kaya dan si miskin ini sebelumnya disampaikan Hashim Djojohadikusumo dalam orasinya. “Saya kan seorang saudagar. Seorang pengusaha. Dan mau diberikan gelar kehormatan ini, apakah sudah pantas?” Pengusaha kondang, adik calon Presiden Prabowo ini mengenang khotbah Rev. Reinhard Bonnke beberapa tahun lalu. “Waktu itu Reinhard Bonkke bilang, ‘Bagi orang kaya jalan masuk surga itu amat sangat sedikit. Portal sempit. Semakin kaya semakin sempit masuk surga.’ Saya pikir, wah, ini lebih berat dari pajak nih.” Kalimat terakhir ini mengundang tawa ratusan orang yang memenuhi aula I-3 itu. Ia meneruskan apakah sebagai pengusaha ia diterima kalangan Kristiani. Namun ia juga mengingat bagaimana ia diterima sejumlah pendeta yang datang padanya meminta bantuan saat gempa melanda Jogja Januari 2007 lalu. “Dari situlah, saya melihat orang kaya atau pengusaha diterima juga di kalangan Kristiani”, tuturnya. Atas perannya dalam ekonomi kemasyarakatan atau yang lebih dikenal awam sebagai ekonomi kerakyatan, yakni konsep perekonomian yang berpihak pada rakyat kecil, suatu waktu Hashim pernah ditanya wartawan, “Apakah filsafat ekonomi kerakyatan cocok dengan kehidupan atau profesi seorang saudagar?” Yang diingat Hashim saat mendapat pertanyaan begitu adalah bagi orang Kristen adalah salah satu ajaran Yesus Kristus yang mengatakan bahwa bagi orang kaya atau yang kuat, wajib untuk membantu yang lemah, yang miskin. Itulah mengapa ia tidak melihat ada benturan antara ekonomi kerakyatan dengan profesi sebagai pengusaha atau saudagar. Baginya lebih penting adalah perilaku orang yang melakukan itu.

Gubernur Kalimantan Tengah, A. Teras Narang—yang sering sekali mendapat penghargaan, salah satunya dari KPK atas upaya pemberantasan korupsi di Kalteng—yang mendapat gelar DR (HC) ini menyadari bahwa yang membedakan antara kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan lainnya adalah hakikat, dinamika, serta falsafah yang berdasar Alkitab. Ia menghayati posisinya sebagai lapangan pengabdian dan bukannya tempat untuk bersenang-senang. Sementara itu, orasi Dirjen Bimas Kristen berjudul “Yang Utama dan Terutama bagi Pertumbuhan Gereja, Peran dan Pemikiran, serta Kontribusinya bagi Pembangunan Bangsa” menyinggung soal konteks pekabaran injil ala Kiai Sadrakh dan Yesaya Pariadji. Dalam penutup sambutannya, Saur Hasugian mengajak gereja-gereja di Indonesia agar dapat menerima teologi kontekstual dan mengembangkan cara-cara berpikir konkrit dan praktis. Karena menurutnya gereja-gereja Prostetan di Indonesia sudah mempelopori teologi kontekstual akan tetapi masih sebatas konseptual-abstrak, masih menggunakan pola pikir Barat; sebaliknya, gereja-gereja Pentakosta-Karismatik yang berpikiran konkrit, kurang menerima teologi kontekstual. “Yang patus dikultuskan hanya Tuhan Yesus Kristus. Murid-murid-Nya yang istimewa perlu dikenang peran dan pemikiran serta jasa-jasanya.” Penerima gelar kehormatan yang sekaligus tuan rumah acara ini, Pdt. Roland Octavianus juga menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak sama dengan apa yang sudah dilakukan ayahnya. Pdt. Petrus Octavianus. Ia bercermin pada ayahnya untuk berperan serta dalam pembangunan. Ia berharap, gelar kehormatan yang diterimanya itu tidak mengurangi jarak hubungan baiknya dengan orang-orang kecil yang sudah lama menjadi teman-temannya di Batu, Lawang. Pak Petrus hadir dalam acara ini. Walau sudah duduk di kursi roda, namun semangat dan kata-katanya masih jelas menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan bangsa Indonesia. Rektor I-3, Pdt. Pdt. Dr. Stevri Indra Lumintang, D.Th., Th.D dalam sambutannya mengatakan penganugerahan gelar doktor kehormatan ini bertujuan untuk menstimulasi dan meng-encourage anak bangsa lainnya supaya meningkatkan peran dan kesaksian kristennya di tengah-tengah masyarakat, bangsa, dan negara melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan dan kemanusiaan seperti yang termuat dalam Pasal 15 dari Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 178/U/2001.

(Jac)

Temu Muka Forum Umat Kristiani Indonesia dengan WCC Agustus 1, 2012

Posted by pgliijatim in Uncategorized.
add a comment

PDFPrintE-mail

Written by Jac Wednesday, 04 July 2012 08:30

Rabu (27/6) jam 10 pagi berkumpul para pemimpin aras gereja nasional.

 

 

di kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Jalan Cikini II No. 10, Jakarta Pusat.

Rm. Edy Purwanto(KWI), Pdt. Gomar Gultom(PGI), Pdt. DR. Nus Reimas (PGLII), Pdt. Yerry Tawalujan, M.Th. (PGLII), Pdt. Dr. M.D. Wakkary (PGPI), Pdt. Robinson Nainggolan(PGPI), Major Ronald M. Saptenno (Bala Keselamatan), Pdt. Johny M. Santoso(PBI) dan sejumlah ketua-ketua dan staf-staf dari masing-masing aras, juga para pemimpin lembaga-lembaga kristiani yang hadir mendengarkan sharing bersama dari Rev. Dr. Olav Fykse Tveit – General Secretary dari World Council of Churches(WCC) dan Rev. Dr. Dong-Sung KIM (Asia Regional Relations – Solidarity & Diakonia juga dari WCC.

Pertemuan ini adalah salah satu tindak lanjut dari acara Global Christian Forum (GCF) yang sebelumnya telah dilaksanakan di Manado, 4-7 Oktober 2011 lalu. Setelah GCF, dibentuklah Indonesian Christian Forum (ICF) yang sementara ini dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Forum Umat Kristiani Indonesia. Deklarasi Forum Umat Kristiani Indonesia merupakan wujud peran serta umat Kristiani untuk kemajuan bangsa dan negara yang akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan kerja sama pelayanan.

Dalam tatap muka tersebut, Dr. Olav membagikan sekaligus mengajak bagaimana orang-orang Kristen di dunia menyatakan kesatuan iman dan tidak hanya berwacana, namun menyatakannya dengan cara yang baik. Pertemuan di Korea Selatan menunjukkan respon yang baik dari gereja-gereja di Korea Selatang tentang bagaimana orang Kristen bersatu dengan cara yang baik. Olav mengatakan, “Jika kita hendak bersatu, kita harus berelasi dengan lebih dalam antara satu dengan yang lain.” Ia juga mengutip ayat 1 Korintus 3:4, “Karena jika yang seorang berkata: ‘Aku dari golongan Paulus,’ dan yang lain berkata: ‘Aku dari golongan Apolos,’ bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?” Selanjutnya Olav menegaskan bagaimana setiap orang Kristen sebenarnya sedang memanggul salib sesuai dengan konteks mereka masing-masing. Nantinya dalam pertemuan WCC di Busan, Korea Selatan tahun 2013, diharapkan ada upaya untuk menemukan perspektif yang lebih luas tentang sesuatu yang baru bagi setiap orang Kristen agar bertumbuh dalam pengertian untuk saling terkoneksi. “Kita harus berkomitmen untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan”, tambahnya. Sekjen WCC ini juga pernah ikut ibadah GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia di depan gedung Istana Negara, Jakarta tanggal 24 Juni lalu. Di sela-sela sharing-nya, pria asal Norwegia ini juga menyatakan bagaimana gereja-gereja dan negara-negara Barat perlu banyak belajar dari Indonesia soal kesatuan gereja. Salah satu caranya adalah dengan mendorong gereja-gereja di Indonesia agar hadir dalam 10 tahun WCC di Busan 30 Oktober – 8 November 2013 yang akan datang.

Pertemuan Forum Umat Kristiani Indonesia ini juga akan diintensifkan untuk mengarahkan bagaimana orang Kristen menyikapi Pemilu 2014, tidak anti politik, dan makin bergairah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Makin cairnya hubungan antar para pemimpin aras gereja nasional ini juga menjadi titik cerah bagi gereja-gereja di Indonesia untuk saling mendukung dalam menyatukan dan menyatakan iman Kristiani dalam berbagai aspek dengan cara-cara yang berkenan. (Jac)

Demokrasi Pancasila dan Penegakan HAM di Indonesia Agustus 1, 2012

Posted by pgliijatim in Uncategorized.
add a comment

PDFPrintE-mail

Written by Jac Tuesday, 24 July 2012 07:58

Tugas demokrasi adalah jangan sampai ada totaliter. Tirani.

“Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” (Ef. 4:17). Demikian salah satu ayat yang ditekankan Pdt. Nus Reimas dalam khotbahnya mengawali acara pertemuan Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) di Lantai 3, Wisma Arion, Jl. Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur (26/6). Kali ini tema yang diusung adalah “Demokrasi Pancasila dan Penegakan HAM” dengan narasumber Martin Hutabarat S.H. (Anggota DPR-RI Partai GERINDRA) dan Jhonny Nelson Simanjuntak, S.H. (Komisioner KOMNAS HAM RI) serta moderator Ir. Albert Siagian (Wakil Ketua Umum DPP GAMKI). Melihat situasi bangsa Indonesia yang sarat dengan banyaknya kasus yang mengabaikan HAM seperti kasus penembakan di Timika, Papua beberapa waktu lalu, juga kasus-kasus lain yang seolah-olah ditenggelamkan oleh berita-berita lain di media, Ketua Umum PGLII ini menekankan pentingnya sebagai para pemimpin Kristiani termasuk generasi muda bangsa ini untuk benar-benar mempraktikkan hidup dalam kasih sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus.

Dalam penyampaiannya, Martin Hubarat memberi pertanyaan besar, “Sejauh mana demokrasi di RI berguna bagi rakyat?” Tugas demokrasi adalah jangan sampai ada totaliter, tirani. Ada kebebasan berarti ada demokrasi. “Apa arti demokrasi bagi kehidupan orang Kristen? Bagaimana orang Kristen menyikapi paham demokrasi di Indonesia?”,sambungnya. Ia mengurai soal demokrasi bahwa kehebatan demokrasi adalah membangun kepentingan orang banyak. Kelemahannya, dalam demokrasi, posisi dan hak jenderal sama dengan rakyat biasa. Untuk itu orang Kristen tidak boleh mengabaikan kebijakan-kebijakan yang terjadi di Dewan Perwakilan Rakyat. Karena kebijakan-kebijakan itu menyangkut kepentingan hidup bersama dalam negara untuk mempertahakan Pancasila dan menjaga keutuhan negara ini. “Diskusi seperti ini sangat baik untuk memberi pengetahuan bagi kaum muda kita untuk mengetahui persoalan-persoalan masyarakat”, imbuhnya. Karenanya ia mengajak supaya gereja perlu membuka diri untuk memberi pengetahuan politik kepada umatnya agar umat Kristiani Indonesia bersama-sama menjaga negara ini.

Bicara soal HAM, Jhonny Nelson Simanjuntak menyinggung kejadian penembakan yang berulang kali terjadi di Timika. “Papua adalah gambaran masyarakat yang merasa terpinggirkan dari pemerintah Indonesia”, kata anggota Komisi III DPR RI ini. Ada persoalan mendasar di republik ini. Undang-undang Dasar bahkan tak dimengerti oleh badan legislatif. Menurutnya, menangani kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia, apalagi di masa lalu, perlu kebijakan, karena harus dipikirkan dampaknya ketika diumumkan ke tengah masyarakat. Karena bisa terjadi amarah dari korban maupun kelompok yang melakukan pelanggaran HAM. “Kita bisa saja menyampaikan sesuatu pelanggaran HAM itu berat, tapi tentu harus dipikirkan eksesnya terhadap masyarakat,” papar Jhonny sering sebagai ketua tim penyelidikan pelanggaran HAM itu.

Selain Pdt. DR. Nus Reimas,para pendiri FDDI yang hadir adalah Laksma TNI (Purn.) Ir. Drs. Bonar Simangunsong, M.Sc, Laksdya TNI (Purn.) Fred Lonan, Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si, Dr. Eliezer H. Hardjo, Ph.D, Arion M. Hutagalung, S.H. dan Jonro I. Munthe, S.Sos. (Jac)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.